Utama  

Proyek TPT di desa Tunggulrejo Tuban diduga Gunakan Limbah Bekas Cucian Pasir Silika.

Oplus_131072

TUBAN – Radarfakta.com Sebuah proyek Tembok penahan tanah (TPT)yang berlokasi di Desa Tunggulrejo, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban, kini menjadi sorotan warga. Pasalnya, material yang digunakan untuk menguruk lahan tersebut diduga kuat merupakan tanah hasil sisa pencucian (limbah) pasir silika.

Pantauan di lapangan menunjukkan beberapa armada truk pengangkut material hilir mudik menurunkan muatan di lokasi proyek. Material tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dari tanah urug biasa (pedel), yakni cenderung berwarna lebih pucat dan memiliki tekstur lumpur halus yang mengering

Kekhawatiran dampak lingkungan

Penggunaan material bekas cucian pasir silika ini memicu diskusi di tengah masyarakat terkait legalitas dan dampaknya terhadap lingkungan jangka panjang.

Beberapa poin yang menjadi perhatian antara lain:

Tekstur tanah: Material bekas cucian silika cenderung sulit padat secara alami dibandingkan tanah urug biasa. Jika musim hujan tiba, dikhawatirkan lahan akan menjadi lembek atau berlumpur (meluber).

Regulasi lingkungan: Sesuai aturan yang berlaku, setiap pemanfaatan limbah atau hasil samping industri untuk pengurukan harus mengantongi izin lingkungan dan dipastikan tidak mengandung zat berbahaya.

Dampak jalan: Aktivitas pengangkutan material yang intens di wilayah Kecamatan Singgahan ini juga berdampak pada debu jalanan dan potensi kerusakan infrastruktur jalan desa.

Tanggapan pihak terkait

hingga berita ini diturunkan, pelaksana proyek di Desa Tunggulrejo belum memberikan keterangan resmi mengenai asal-usul material dan kelengkapan dokumen perizinannya.

Di sisi lain, warga berharap pihak berwenang, baik dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) maupun Satpol PP Kabupaten Tuban, melakukan kroscek ke lokasi untuk memastikan apakah material tersebut layak digunakan untuk pengurukan lahan di area pemukiman atau persawahan.

“Kami hanya ingin memastikan bahwa material ini aman dan tidak merusak kualitas tanah di sekitar sini untuk jangka panjang,” ujar salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya.

Pihak desa setempat juga diharapkan dapat menjembatani komunikasi antara pengembang proyek dengan warga agar tidak terjadi polemik di kemudian hari. (Nur/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Deskripsi gambar