BOJONEGORO – Radarfakta.com Pelaksanaan program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Desa Deru, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, tengah menjadi sorotan.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertugas mendistribusikan makanan di wilayah tersebut terpaksa menghentikan operasional selama lima hari terakhir akibat anggaran dari Badan Gizi Nasional yang belum juga cair.
Operasional SPPG Desa deru Berhenti
terhentinya distribusi makanan ini dikonfirmasi oleh sumber di lapangan yang menyebutkan bahwa biaya operasional dan pengadaan bahan baku sangat bergantung pada kucuran dana pusat. Belum turunnya anggaran selama hampir satu pekan ini membuat SPPG di Desa Deru tidak mampu melakukan pengadaan makanan untuk ribuan siswa di sekolah-sekolah sasaran, termasuk di lingkup SMP Muhammadiyah Sumberrejo.
“Di tanggal 22 kami sudah membuat penguman bahwasannya oprasional dapur berhenti sementara, krn memang dananya belum turun pak” ucap salah satu aslap (asisten lapangan) SPPG desa deru.
“Dana kami turun di tanggal 24 bapak, dan tanggal 25-26 libur nasional. Jadi memang yg bisa di runningkan untuk minggu ini hanya di hari sabtu, Anggaran minggu ini hanya 1 hari memang pak, hal tersebut sesuai pelaporan kami ke BGN dan grup monitoring, yang dimana grup tersebut diawasi oleh pihak koramil dan PIC seluruh sekolah” tambahnya.
Di kutip dari laman suaradesa.com Dapur SPPG Deru, Kecamatan Sumberrejo. Dapur ini melayani sebanyak 3.676 penerima manfaat, yang terdiri atas 3.356 siswa sekolah dan 320 B3 (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita) dari enam desa — Deru, Ngampal, Sendangagung, Pekuwon, Kedungrejo — serta satu lembaga pendidikan, yaitu Sekolah Muhammadiyah di Desa Sumberrejo.
Selain masalah mandeknya distribusi, kualitas menu yang diberikan juga memicu protes dari para wali murid. Alih-alih mendapatkan nasi kotak dengan sayur dan lauk pauk lengkap, para siswa selama libur 5hr hanya menerima paket makanan yang dinilai kurang variatif.
Wali murid mengeluhkan bahwa menu yang sampai ke tangan anak-anak mereka hanya berkutat pada:
• Telur (rebus/goreng)
• Roti
• kacang kupas
• Buah jeruk
“Kami merasa kecewa. Namanya ‘Makan Bergizi’, tapi anak-anak cuma dikasih telur, roti, dan kacang. Kalau seperti itu, di rumah pun kami bisa kasih. Padahal tanggal 22 sampai tanggal 26 kosong, Kami berharap menunya ada nasi, sayur hijau, dan daging atau ikan secara bergantian,” keluh salah satu wali murid yang tidak ingin di sebut namanya di Sumberrejo.
Desakan perbaikan sistem
kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua siswa mengenai keberlanjutan program. Mereka mendesak agar pemerintah, khususnya Badan Gizi Nasional, segera membenahi sistem pencairan anggaran agar tidak terjadi kekosongan distribusi di masa mendatang.
Selain itu, pihak SPPG Desa Deru diharapkan melakukan evaluasi terhadap makanan yang di berikan yang disajikan benar-benar memenuhi standar gizi seimbang dan menarik bagi anak-anak. Hingga berita ini diturunkan, masyarakat masih menunggu kejelasan kapan program makan gratis ini akan kembali berjalan normal. (Guh/Red)













