BOJONEGORO _ Radarfakta.com Senin 23/03/2026. Menjadi jurnalis di era sekarang bukan lagi sekadar soal adu cepat menayangkan berita. Ada beban yang jauh lebih berat: mempertahankan integritas di tengah kepungan kepentingan. Namun, ironinya, ketika seorang jurnalis menjalankan tugasnya dengan terlalu kritis, ia seringkali harus bersiap untuk satu hal dibenci.
Dibenci oleh penguasa, dijauhi narasumber, bahkan terkadang dirundung oleh publik yang merasa kenyamanannya terganggu.
“Anjing Penjaga” yang Dianggap Mengganggu
Secara teori, jurnalis adalah watchdog atau anjing penjaga demokrasi. Tugasnya adalah menggonggong saat melihat ada yang tidak beres dalam sistem. Namun, dalam realitas lapangan, “gonggongan” kritis ini sering dianggap sebagai serangan personal atau upaya untuk menjatuhkan reputasi.
Ada semacam tren di mana narasumber atau instansi tertentu hanya ingin “berteman” dengan jurnalis yang menulis hal-hal manis. Jurnalis yang rajin menanyakan transparansi anggaran, mengejar kejelasan kebijakan, atau membongkar kebobrokan di balik layar, seringkali dicap sebagai “pencari masalah” atau “jurnalis yang tidak kooperatif.”
Menjadi jurnalis kritis berarti harus siap menghadapi isolasi. Berikut adalah pola yang sering terjadi:
Akses yang Ditutup: Narasumber kunci mulai sulit dihubungi atau mendadak “rapat” setiap kali ingin dikonfirmasi.
Stigma Negatif: Label sebagai jurnalis “galak” atau “anti-pemerintah” disematkan untuk mendelegitimasi karya jurnalistiknya.
Serangan Personal: Di era digital, kritik dibalas dengan doxing atau serangan di media sosial yang menyasar ranah pribadi, bukan substansi berita.
Mengapa Kita Tetap Butuh Jurnalis yang Dibenci?
Jika semua jurnalis memilih untuk “main aman” demi disukai semua orang, maka media massa tak lebih dari sekadar brosur humas atau corong propaganda. Tanpa sikap kritis, penyimpangan akan tumbuh subur dalam kegelapan.
“Berita adalah sesuatu yang ingin disembunyikan oleh seseorang; selebihnya hanyalah iklan.” Lord Northcliffe
Publik perlu menyadari bahwa jurnalis yang paling kritis seringkali adalah mereka yang paling mencintai profesinya dan publiknya. Mereka rela kehilangan relasi dan popularitas demi memastikan hak masyarakat atas kebenaran tetap terpenuhi.
Dibenci karena berita yang benar adalah sebuah tanda kehormatan yang pahit. Jurnalis yang kritis tidak butuh tepuk tangan dari mereka yang sedang diawasi; mereka hanya butuh ruang untuk terus bertanya.
Sebab, pada akhirnya, musuh utama demokrasi bukanlah perbedaan pendapat, melainkan bungkamnya suara-suara kritis. (Red)













