BOJONEGORO – Radarfakta.com // Suasana sejuk di Masjid Albirru Pertiwi, Dander, pada Minggu pagi ini terasa berbeda. Sekitar 500 jamaah muslimin dan muslimat berkumpul dengan tertib untuk mengikuti kajian rutin Tauziyah Tombo Ati yang diselenggarakan mulai pukul 07.00 hingga 08.30 WIB.
Acara yang menghadirkan Al Ustad K.H. Agus Solahudin sebagai pembicara utama ini mengangkat tema yang sangat relevan menjelang bulan suci, yakni “Zakat dan Sedekah”.
Dalam tausiyahnya, K.H. Agus Solahudin menekankan bahwa Ramadan merupakan Sahrul Juk (bulan lapar/perjuangan) yang juga menjadi momentum tepat untuk membersihkan harta.
Salah satu poin penting yang beliau sampaikan adalah mengenai zakat profesi sebesar 2,5%.
“Zakat profesi itu bisa di-takjil atau disegerakan pembayarannya. Sayangnya, bagi sebagian orang kaya, zakat terkadang kurang populer dibandingkan sedekah biasa,” ujar beliau di hadapan para jamaah.
Beliau menjelaskan perbedaan mendasar bahwa zakat merupakan kewajiban bagi mereka yang menemui bulan puasa hingga hari raya (zakat fitrah) serta mereka yang telah mencapai nisab harta.
Ada pesan menarik yang menggetarkan hati jamaah ketika Al Ustad membandingkan karakter seseorang dalam memberi. Beliau menegaskan bahwa nilai kemanusiaan dan pahala sangat bergantung pada kemurahan hati.
Pahala bagi si Pemberi: Orang yang mungkin pernah melakukan kesalahan namun tetap ringan tangan dalam memberi (bersedekah) tetap mendapatkan pahala di sisi Allah.
Sentilan bagi si Benar yang Pelit: Beliau menyebutkan bahwa orang yang merasa dirinya benar namun tidak memiliki kepedulian untuk berbagi, posisinya jauh di bawah orang yang dermawan.
Kondisi AcaraKegiatan berlangsung dengan sangat khusyuk. Meski dihadiri ratusan orang, arus lalu lintas dan ketertiban di area Masjid Albirru Pertiwi terpantau aman dan kondusif hingga acara usai pada pukul 08.30 WIB. (H.ali/Red)













