LAMONGAN – RADARFAKTA.COM // Dalam gemerlap panggung pementasan Ludruk, nama Dewi Andong Sari kerap muncul sebagai tokoh sentral yang memikat perhatian penonton.
Namun, lebih dari sekadar lakon sandiwara, ia adalah sosok sejarah yang memiliki keterkaitan erat dengan berdirinya imperium besar Majapahit dan lahirnya sang pemersatu Nusantara, Gajah Mada.
Dewi Andong Sari, yang aslinya bernama Dara Pethak, merupakan putri dari Kerajaan Dharmasraya yang dipersunting oleh Raden Wijaya, Raja pertama Majapahit.
Keputusannya menjadi istri yang dituakan (diistimewakan) memicu bara kecemburuan di dalam istana.Ketegangan memuncak saat Dewi Andong Sari mengandung.
Sang permaisuri, Tri Buana Neswari, merasa terancam akan posisi keturunannya di masa depan.Khawatir putra dari Dewi Andong Sari akan mewarisi takhta, sang dewi pun akhirnya disingkirkan dari istana.
Perjalanan panjang membawanya ke Dusun Cacing, Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan.Di pengasingan, nasib Dewi Andong Sari berubah berkat pertolongan Ki Gede Sidowayah, seorang Mpu ahli pembuat senjata pusaka yang disegani.
Di tanah Lamongan inilah, beliau melahirkan seorang putra laki-laki yang kelak mengguncang sejarah: Gajah Mada.Sayangnya, Dewi Andong Sari meninggal dunia saat putranya masih kecil. Beliau kemudian dimakamkan di puncak Gunung Ratu, sebuah kawasan yang hingga kini dianggap sakral oleh masyarakat setempat.
Meski baru resmi dibuka sebagai situs wisata sejarah pada tahun 1999, Makam Dewi Andong Sari telah lama menjadi magnet bagi para pencari jati diri. Sebelum peresmiannya, situs ini populer sebagai tempat pertapaan bagi mereka yang ingin mengasah ilmu dan batin.
Hingga kini, masyarakat Lamongan menjaga kelestarian makam ini dengan sangat baik. Situs ini menjadi pusat kegiatan pada momen-momen penting, seperti:
Sedekah Bumi: Rutin dilaksanakan setiap Selasa Wage di bulan Mei.
Hari Jadi Lamongan (HJL): Sebagai bentuk penghormatan terhadap akar sejarah daerah.
“Dewi Andong Sari bukan sekadar tokoh dalam cerita ludruk. Ia adalah simbol keteguhan seorang ibu yang meski terasing, mampu melahirkan pemimpin besar. Makamnya di Gunung Ratu adalah bukti sejarah yang harus terus kita rawat,” ujar salah seorang warga setempat.
Kisah Dewi Andong Sari mengingatkan kita bahwa sejarah besar seringkali dimulai dari sudut-sudut sunyi yang terpencil, jauh dari gemerlap istana, namun tetap abadi dalam ingatan rakyat. (Guh/Red)













