Utama  

RSUD Sosodoro Bojonegoro Overload, Pasien Terpaksa putar balik Akibat Bed Penuh

BOJONEGORO – Radarfakta.com // Kondisi pelayanan kesehatan di RSUD dr. R. Sosodoro Djatikoesomo Bojonegoro tengah berada di titik jenuh. Membludaknya jumlah pasien dalam beberapa hari terakhir mengakibatkan ketersediaan tempat tidur (bed) habis total di ruang ICU (intensif care unit), sehingga banyak warga yang gagal mendapatkan perawatan di rumah sakit pelat merah tersebut.

Fenomena ini memaksa keluarga pasien untuk bergerak cepat mencari rumah sakit alternatif demi menyelamatkan nyawa kerabat mereka, meski harus menanggung biaya atau prosedur administrasi ulang di tempat lain.

Keluarga pasien kecewa

Keluhan muncul dari sejumlah keluarga pasien yang merasa terpukul dengan kondisi ini. Salah satunya adalah Nurul, seorang warga balen yang bermaksud mengantarkan ibunya untuk mendapatkan perawatan intensif. Namun, harapannya pupus saat tiba di IGD RSUD Sosodoro pada Senin 02/02/2026.

“Saya antar ibu ke RS, tapi sampai sini sudah tidak muat dan bed-nya habis. Kondisinya sangat penuh. Terpaksa ibu saya pindah ke rumah sakit lain supaya segera ditangani,” ungkap Nurul dengan nada kecewa kepada awak media.

Nurul tidak sendirian. Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa kendaraan pengantar pasien tampak harus memutar balik setelah mendapatkan informasi bahwa kapasitas ruang perawatan telah melampaui batas (overload).

Krisis Kapasitas di Rumah Sakit Rujukan

Sebagai rumah sakit rujukan utama di Bojonegoro, penuhnya RSUD Sosodoro Djatikoesomo menjadi alarm keras bagi sistem kesehatan daerah. Membludaknya pasien ini diduga dipicu oleh naiknya angka kasus penyakit musiman atau rujukan dari Puskesmas yang meningkat secara signifikan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen RSUD belum memberikan keterangan resmi mengenai langkah darurat yang akan diambil, seperti penambahan tempat tidur lipat (velbed) di selasar atau koordinasi sistem rujukan terpadu untuk mengurai antrean pasien.

Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk memastikan tidak ada pasien dalam kondisi kritis yang ditolak hanya karena alasan teknis ketersediaan tempat tidur. (Guh/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Deskripsi gambar