TUBAN_RADARFAKTA.COM // Kasus penagihan agresif yang melibatkan oknum petugas lembaga pembiayaan PNM Mekaar di Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, kini resmi bergulir ke ranah hukum. Laporan resmi telah dimasukkan ke Kepolisian Sektor (Polsek) Rengel pada Kamis (13/8/2026), dengan nomor registrasi STPL/14/VIII/2026/POLSEK atas nama pelapor Nur Aini Indrawati (34), warga Dusun Pekuwon, Desa Pekuwon, Kecamatan Rengel.
Perkara ini tidak hanya berfokus pada kerusakan material atau perusakan properti rumah, melainkan membongkar sisi kelam dampak psikologis dan trauma mendalam yang harus ditanggung oleh anak-anak di bawah umur akibat intimidasi tersebut. Melihat kondisi mental korban yang kian memprihatinkan, pihak keluarga kini bersiap menggandeng Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Berdasarkan dokumen laporan kepolisian, insiden mencekam ini terjadi pada Jumat, 7 Agustus 2026 sekitar pukul 18.30 WIB. Sebanyak 10 orang petugas PNM Mekaar di antaranya dikenali berinisial Sdri. Dw dan Ans mendatangi kediaman korban secara masif hingga memicu adu mulut yang sangat intimidatif.
Guna melindungi keluarganya, pihak korban sempat masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Namun, situasi berubah menjadi horor psikologis ketika rombongan penagih diduga dengan sengaja mematikan saklar meteran listrik dari luar rumah.
Di tengah kegelapan total, pintu rumah didobrak secara paksa hingga mengalami kerusakan parah:
Engsel pintu rusak.
Bagian bawah kiri pintu pecah.
Kayu bagian belakang pintu lepas.
Meskipun hari sudah malam dan korban berkali-kali memohon agar rombongan membubarkan diri demi keselamatan psikologis anak-anak yang menangis histeris, para penagih tetap bertahan mengepung pekarangan rumah dan memperpanjang durasi teror.
Kesaksian Pilu Keluarga: Anak Mengurung Diri dan Minder
Dampak non-materiil dari teror malam itu jauh lebih menghancurkan daripada kerusakan fisik bangunan. Pihak keluarga mengungkapkan bahwa pasca-kejadian, perubahan drastis terjadi pada perilaku anak-anak mereka, terutama anak tertua yang berusia 14 tahun.
Saat insiden berlangsung, remaja tersebut secara spontan berdiri menjadi tameng hidup untuk melindungi ibu serta adik-adik balitanya dari gertakan kelompok penagih.
”Anak saya sekarang mengalami trauma berat. Dia tidak mau sekolah, cenderung mengurung diri di dalam kamar, dan ketakutan setiap kali mendengar suara asing di luar rumah. Dia juga terkesan menjadi minder akibat tekanan mental malam itu,” ungkap perwakilan keluarga dengan nada pilu.
Gejala kecemasan mendalam (anxiety) juga menyerang dua anak lainnya yang berusia 6 tahun dan seorang balita. Suara gedoran keras serta teriakan bernada ancaman di tengah gulita telah merampas paksa rasa aman yang seharusnya mereka dapatkan di dalam rumah sendiri. (Red)













