Oleh: Redaksi
BOJONEGORO _ Radarfakta.com // Ada sebuah pameo lama di dunia politik: “Jangan berteman dengan jurnalis jika kamu tidak siap ditelanjangi kinerjanya.” Namun, apa yang terjadi jika seorang pejabat publik justru memelihara rasa benci terhadap jurnalis yang kritis, dan menunjukkan watak aslinya saat sang jurnalis melalui asosiasinya meminta dukungan donasi?
Baru-baru ini, sebuah fenomena menarik sekaligus memprihatinkan muncul ke permukaan. Terlihat jelas bagaimana seorang pejabat menunjukkan sikap resisten dan sinis saat sebuah asosiasi jurnalis mengajukan permohonan donasi atau bantuan sosial.
Bukan bantuan yang didapat, melainkan sindiran dan penolakan yang dibumbui sentimen pribadi atas kritik-kritik tajam yang selama ini dialamatkan kepadanya.
Kritik Bukan Serangan Pribadi
satu hal yang sering gagal dipahami oleh pejabat bertipikal “anti-kritik” adalah bahwa tugas jurnalis adalah menjadi anjing penjaga (watchdog). Ketika jurnalis menyoroti jalanan yang berlumpur, APBD yang tidak tepat sasaran, atau janji-janji politik yang menguap, itu adalah bentuk pengabdian pada publik, bukan serangan personal.
Namun, bagi pejabat yang memiliki ego di atas kepentingan rakyat, kritik dianggap sebagai “polusi suara“. Rasa benci yang dipupuk selama bertahun-tahun ini akhirnya meledak dan terlihat jelas saat jurnalis menunjukkan sisi kemanusiaannya melalui permintaan donasi untuk kegiatan asosiasi atau bantuan kesejahteraan anggotanya.
Sifat Asli yang Terkupas
Saat asosiasi jurnalis meminta dukungan baik untuk kegiatan sosial, peningkatan kapasitas, maupun bantuan kesehatan bagi anggota yang kesulitan pejabat tersebut seolah mendapatkan momentum untuk “membalas dendam”.
Ada beberapa pola perilaku yang terbaca:
Sindiran Halus tapi Menyakitkan: “Kenapa minta bantuan ke saya? Bukannya kalian paling pintar mengkritik saya?”
Penolakan dengan Dalih Integritas: Menggunakan alasan independensi jurnalis untuk menolak bantuan, padahal aslinya karena rasa sakit hati.
Menjadikan Donasi sebagai Alat Transaksi: Memberi bantuan hanya jika pemberitaan yang kritis dihentikan atau diganti dengan narasi “pesanan”.
“Sifat asli seseorang tidak terlihat saat dia dipuji, tetapi terlihat saat dia memiliki kekuasaan untuk membantu seseorang yang pernah menyakiti egonya.”
Membunuh Karakter Demokrasi
Pejabat yang benci kepada jurnalis kritis sebenarnya sedang menunjukkan rasa tidak percaya dirinya. Jika kinerja memang benar, kritik seharusnya menjadi cermin untuk berbenah, bukan alasan untuk memutus tali silaturahmi kemanusiaan.
Menolak membantu asosiasi jurnalis hanya karena tidak suka dikritik adalah tindakan yang kerdil. Pejabat tersebut lupa bahwa uang yang ia kelola (dan barangkali sebagian yang ia donasikan) adalah uang rakyat, yang mana jurnalis adalah mata dan telinga dari rakyat tersebut.
Publik akan terus mencatat. Pejabat yang antikritik dan pendendam hanya akan dikenang sebagai sosok yang gila hormat tetapi miskin prestasi.
Pada akhirnya, jurnalis akan tetap menulis, meski tanpa donasi dari pejabat tersebut. Karena bagi jurnalis sejati, integritas tidak bisa dibeli dengan recehan donasi, dan kritik tidak akan tumpul hanya karena rasa benci seorang pejabat. (Red)













