Opini  

Kenduri dan Mobil Baru: Cara Orang Desa Menjinakkan Ego Kepemilikan

Di kota besar, kedatangan sebuah mobil baru gres dari dealer mungkin hanya akan berakhir menjadi pajangan di garasi, atau paling banter, unggahan pamer di media sosial dengan takarir bernada aesthetic. Namun, di sebuah teras rumah di sudut desa, cerita itu berganti rupa menjadi kepulan asap dari tungku besar, aroma rempah yang pekat, dan riuh rendah tawa para tetangga.

​Malam Selasa pahing, sebuah keluarga di desa kami baru saja menggelar kenduri. Alasan klasiknya: mensyukuri hadirnya satu unit mobil baru di pekarangan mereka. Hidangan utamanya tidak main-main nasi kebuli lengkap dengan ayam panggang utuh yang bumbunya meresap hingga ke tulang.

​Bagi sebagian orang luar, barangkali ini dianggap sebagai pemborosan atau bahkan ajang pamer yang dibungkus ritus keagamaan. Namun, jika kita mau duduk bersila di atas tikar pandan itu dan ikut merobek daging ayam panggangnya, kita akan menemukan filosofi yang jauh lebih dalam dari sekadar perayaan materi.

​Menjinakkan Ego Lewat Nasi Kebuli

​Nasi kebuli, dengan pengaruh budaya Timur Tengah yang kuat, kaya akan rempah seperti kapulaga, cengkih, dan jintan. Rempah-rempah ini adalah simbol kekayaan rasa dan berkah yang melimpah. Ketika hidangan ini disajikan dalam nampan besar (lengser) untuk dimakan bersama oleh empat hingga lima orang, sekat-sekat ego langsung runtuh.

​Di atas nampan kebuli, tidak ada lagi perbedaan antara pemilik mobil baru, petani gurem, atau buruh serabutan. Semua tangan sama-sama meraup nasi yang sama.

​Ini adalah mekanisme sosial yang luar biasa di pedesaan untuk “menjinakkan” rasa iri sekaligus meredam kesombongan. Dengan mengundang tetangga dan membagikan makanan yang lezat, si pemilik mobil secara simbolis sedang berkata, “Harta ini milik kami, tapi kegembiraannya adalah milik kita bersama.”

​Ayam Panggang dan Doa Keselamatan

​Lalu, mengapa harus ayam panggang utuh? Dalam tradisi kenduri Jawa dan Nusantara pada umumnya, ayam panggang (atau sering disebut ayam ingkung) melambangkan kesucian hati dan kepasrahan. Ayam yang dipanggang utuh dalam posisi bersila seolah mengingatkan manusia untuk selalu bersujud dan ingat pada Sang Pencipta.

​Ketika mobil baru didoakan dalam kenduri tersebut, esensinya bukan meminta agar kendaraan itu terlihat keren di jalanan. Doa-doa yang dipimpin oleh tetua adat atau kiai setempat adalah doa keselamatan: agar roda-rodanya hanya berputar menuju tempat-tempat kebaikan, agar mesinnya tidak membawa petaka, dan agar pemiliknya dijauhkan dari sifat tinggi hati saat memegang kemudi.


​Moderenisasi sering kali dituduh sebagai pembunuh kerukunan desa. Namun, lewat kenduri kebuli ayam panggang ini, masyarakat desa menunjukkan adaptasi yang cerdas. Mereka menerima teknologi modern (mobil), tetapi tetap mengikatnya dengan tali spiritualitas lama (kenduri).

​Kenduri mobil baru ini adalah pengingat visual yang kuat. Bahwa di dunia yang bergerak semakin cepat dan individualis, ruang tamu di desa masih menyediakan tempat untuk duduk bersama, melangitkan doa, dan mengunyah berkah dalam sepotong ayam panggang yang hangat. Mobil boleh melaju kencang ke mana saja, namun hati dan ingatan harus tetap pulang ke tanah tempat berteduh dan bertetangga. (Guh/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Deskripsi gambar